Jumat, 22 Januari 2010

Toshiba Satellite T115-S1105 (2010)


Toshiba Satellite T115-S1105
Toshiba Satellite T115-S1105 : Top Toshiba Satellite T115-S1105 : Angle Toshiba Satellite T115-S1105 : Front

Electing not to use an Intel Atom processor doesn't exempt you from being called a netbook. I've seen netbook systems show up with AMD and VIA processors and even ones that run on different platforms (i.e., Nvidia's Ion). In the end, though, it's no different than a netbook if it's as small and as inexpensive as one. Case in point: The Toshiba Satellite T115-S1105 comes with Windows 7 loaded (most netbooks have Windows XP) and uses an Intel Consumer Ultra Low Voltage (CULV) processor. CULV processors are filling the space between netbooks and regular laptops—but everything else about it smell like a netbook. Its $480 price, 11.6-inch widescreen, and 7 hours of battery life can compete with some of the best netbooks in the business, but it will need to work on the typing and navigating experience first.

Toshiba America Inc

http://www.toshiba.com

Spec Data
  • Price as Tested: $480.00 Street
  • Type: General Purpose, Ultraportable, Value, Netbook
  • Operating System: Microsoft Windows 7 Home Premium
  • Processor Speed: 1.3 GHz
  • RAM: 2 GB
  • Weight: 3.3 lb
  • Screen Size: 11.6 inches
  • Screen Size Type: widescreen
  • Graphics Card: Intel Graphics Media Accelerator 4500MHD
  • Storage Capacity: 250 GB
  • Networking Options: 802.11n
  • Primary Optical Drive: External

Selasa, 05 Januari 2010

LG X120

LG X120
LG X120 : Angle LG X120 : Top LG X120 : Left

After receiving the LG X120, which, as a netbook, is delightful to look at, I couldn't help but stroll into my local RadioShack before reviewing the product. You see, Radio Shack the only place where the X120 is available, and interestingly enough this is the first LG netbook, or any laptop for that matter, to ever debut in the United States. And it can be yours in one of two ways: One, commit yourself to a two-year AT&T 3G contract, which involves paying $60 a month for an unlimited wireless internet plan, and pay $50 for the unit, or be contract-free and pay $400. Either way, it's tough to take the plunge.

LG Electronics U.S.A. Inc

http://www.lgusa.com

Spec Data
  • Price as Tested: $400.00 Street
  • Type: General Purpose, Ultraportable, Value, Netbook
  • Operating System: MS Windows XP Home
  • Processor Name: Intel Atom N270
  • Processor Speed: 1.6 GHz
  • RAM: 1 GB
  • Weight: 2.8 lb
  • Screen Size: 10.1 inches
  • Screen Size Type: widescreen
  • Graphics Card: Intel Graphics Media Accelerator 950
  • Storage Capacity: 160 GB
  • Networking Options: 802.11a/g
  • Primary Optical Drive: External

Alienware M15x (Core i7)

Alienware M15x (Core i7)
Alienware M15x (Core i7) : Top Alienware M15x (Core i7) : Angle Alienware M15x (Core i7) : Front

Alienware is at the top of its game, as its otherworldly creations have few equals when it comes to gaming laptops. The Alienware M15x (Core i7) is essentially the smaller version of the M17x, which, covered in heavy metals, dominated opponents in both looks and performance. Though smaller, the M15x is actually the more powerful of the two, thanks to the fastest mobile processor on earth. The Intel Core i7 920XM, along with a midrange Nvidia GeForce GTX 260M graphics card, continues Alienware's tradition of dominating opponents. For its price and a great deal of heft, however, I would much rather wait for the M17x to get the same Core i7 treatment.

Dell, Inc.

http://www.dell.com

Spec Data
  • Price as Tested: $3,244.00 Direct
  • Type: Gaming, Media
  • Operating System: Microsoft Windows 7 Ultimate
  • Processor Name: Intel Core i7-920XM
  • Processor Speed: 2 GHz
  • RAM: 4 GB
  • Weight: 9.2 lb
  • Screen Size: 15.6 inches
  • Screen Size Type: widescreen
  • Graphics Card: nVidia GeForce GTX 260M
  • Storage Capacity: 500 GB
  • Networking Options: 802.11n
  • Primary Optical Drive: DVD+/-RW DL with Blu-Ray

Jumat, 18 Desember 2009

Mendiknas : Jadikan Wirausaha sebagai Hobi

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) meminta untuk menjadikan wirausaha sebagai hobi. Dengan menjadikan wirausaha sebagai hobi maka diharapkan keuntungan tidak hanya untuk dirinya, tetapi untuk masyarakat yang lebih luas.

"Hobi itu meskipun membayar tidak apa - apa. Seperti orang yang bermain tenis, dia rela untuk membayar lapangan. Karena sudah memasukkan wirausaha sebagai hobi, sehingga tidak mendapatkan keuntungan pun dianggap memberikan keuntungan yang besar," kata Mendiknas pada Workshop Kewirausahaan Perguruan Tinggi di Depdiknas, Jakarta, Kamis (17/12/2009). Mendiknas mencontohkan, pengusaha dan enterpreneur Bob Sadino yang menjadikan wirausaha sebagai hobi.

Mendiknas menyebutkan, terdapat beberapa lapisan dalam masyarakat. Pertama, adalah masyarakat dependen atau tergantung. Dengan melakukan sesuatu hal yang produktif, kata Mendiknas, dapat masuk ke lapisan kedua yaitu masyarakat independen atau mandiri. "Puncaknya adalah interdependen society," katanya.

Menurut Mendiknas, masyarakat yang mandiri konteksnya adalah memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi kalau masuk ke dalam fase interdependensi maka orang lain sangat tergantung pada kita dan sebaliknya. "Kemanfaatan itu baru dirasakan kalau orang lain merasa tergantung pada diri kita," ujarnya.

Pengusaha Bob Sadino menyampaikan, berbeda dengan seorang akademisi yang mempunyai tujuan dan arah, seorang enterpreneur tidak pernah memikirkan tujuan dan arah dia akan melangkah. "Karena orang itu mempunyai tujuan maka dia dipaksa untuk mencapainya. Orang - orang seperti saya belum tentu punya tujuan dan karena tidak punya tujuan maka tidak harus dipaksa," katanya.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, sejak 2009 bekerjasama dengan Ciputra Foundation telah mengembangkan potensi yang ada di kalangan para pengajar. Dia menyebutkan, melalui kerja sama ini telah melatih lebih kurang 1.500 orang dosen dari 300 perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/PTS) seluruh Indonesia .

"Ada yang menjadi mata kuliah sendiri ada yang menjadi ko-kurikuler di dalam berbagai mata pelajaran yang terkait, dan juga ada yang menjadi ekstrakurikuler. Jadi dari 300 ribu itu dilakukan upaya - upaya pengembangan kewirausahaan, " katanya.

Sejalan dengan itu, lanjut Fasli, Depdiknas menyediakan blockgrant untuk PTN/PTS sebanyak Rp 8 juta per mahasiswa. Ke depan, kata dia, sebagian dosen akan dikirim ke Amerika selama enam bulan untuk belajar benar bagaimana memfasilitasi proses pendidikan kewirausahaan.

Fasli berharap, jumlah entrepreneur di Indonesia bisa dinaikkan dari 0,18 persen menjadi dua atau tiga persen. "Nah karena itu pusat - pusat kewirausahaan menjadi sangat penting baik untuk dosen, mahasiswa, dan untuk menjangkau masyarakat banyak, sehingga entrepreneurship ini menjadi bagian penting dari warisan bangsa

Tahun Ini Siswa SD Indonesia Panen Medali dalam Lomba Matematika Tingkat Internasional

Jakarta (Mandikdasmen): Tahun 2009 ini, siswa - siswi Sekolah Dasar (SD) Indonesia berhasil mengukir prestasi membanggakan dalam perlombaan bidang Matematika tingkat internasional. Sebanyak 75 medali berhasil mereka raih dari 4 perlombaan. Ke-75 medali ini terdiri dari 13 medali emas, 20 medali perak, 40 medali perunggu, dan 2 medali merit. Bahkan, di antara mereka juga berhasil memperoleh penghargaan sebagai the best exploration.

Adapun keempat perlombaan tingkat internasional itu adalah sebagai berikut; 10TH International World Youth Mathematics Intercity Competition (IWYMIC), di Durban 5 - 10 Juli 2009; 3RD Wizards at Mathematics International Competition (WIZMIC), di Lucknow, 27 Oktober-2 November 2009; 6TH International Mathematics and Science Olympiad for Primary School 2009 (IMSO), di Yogyakarta, 8 - 14 November 2009; dan Philippine International Mathematics Competition, di Iloilo City, 28 November - 2 Desember 2009.

Dari keempat perlombaan di atas, lomba 6TH IMSO juga menggelar lomba bidang ilmu pengetahuan. Dan ternyata, siswa - siswi SD juga berhasil meraih prestasi yang lumayan menggembirakan. Sebanyak 12 medali mereka sabet dalam perlombaan yang digelar di Kota Gudeg, Yogyakarta ini. Ke-12 medali ini terdiri dari 2 medali emas, 3 medali perak, dan 7 medali perunggu, dan the best overall, serta the best theory.

Keberhasilan siswa - siswi SD tersebut, merupakan buah kerja keras Direktorat Pembinaan TK/SD, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, bersama - sama para ahli dan para guru. Kerja keras ini sudah dimulai sejak awal tahun 2009.

Lebih jauh, panen medali di atas juga merupakan bukti bahwa pelaksanaan dua pilar kebijakan pendidikan nasional, yaitu; Pilar Peningkatan Mutu, Relevansi dan Daya Saing Pendidikan, serta Pilar Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan, perlahan - lahan membuahkan hasil yang menggembirakan. Karena selain berhasil memboyong banyak medali, para peraih medali ini ternyata tidak hanya berasal dari pulau Jawa, namun juga ada yang berasal dari Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Bali.

Nama - nama siswa yang berhasil mengharumkan Bangsa dan Negara Indonesia di kancah internasional tersebut, adalah sebagai berikut: Daftar Nama Siswa SD Pemenang Lomba Matematika Tingkat Internasional 2009.

ITB Borong Gelar OSN-PTI

Institut Teknologi Bandung (ITB) memborong gelar pada Olimpiade Sains Nasional - Perguruan Tinggi Indonesia (OSN-PTI) 2009. Sebanyak delapan dari sembilan peserta yang masuk ke babak grand final adalah mahasiswa ITB. Mereka berjaya di semua bidang yang dilombakan, yakni Fisika, Kimia, dan Matematika.

Pemenang bidang Fisika semua diraih oleh mahasiswa ITB. Pemenang pertama adalah Andhika Putra, pemenang kedua Firmansyah Khasim, dan pemenang ketiga Radius Nagassa, SSD. Para mahasiswa ITB juga memborong semua penghargaan untuk bidang Kimia. Pemenang pertama adalah Boanerges Thendi Surya, pemenang kedua Citra Deliana, dan pemenang ketiga Aulia Sukma.

Sementara, untuk bidang Matematika dua mahasiswa ITB menjadi pemenang pertama dan kedua. Pemenang pertama adalah R. Akbar, W.K dan pemenang kedua adalah Hendra H.C, sedangkan pemenang ketiga diraih oleh mahasiswa Universitas Indonesia, Ahmad Maimun.

"Hari ini kita menghasilkan, menghadiri, mendampingi, dan memberikan ucapan selamat kepada adik - adik kita yang ikut membangun budaya penelitian dan budaya mengembangkan ilmu pengetahuan baru," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh pada acara malam penganugerahan pemenang OSN-PTI 2009 di Depdiknas, Jakarta, Rabu (9/12/2009).

Para pemenang berhak mendapatkan hadiah. Pemenang pertama, kedua, dan ketiga masing - masing mendapatkan hadiah Rp 7,5 juta, Rp 5 juta, dan Rp 2,5 juta. Tambahan hadiah Rp 10 juta diberikan kepada pemenang terbaik dari babak grand final.

Untuk perguruan tinggi asal peserta grand final mendapatkan dana pembinaan dari PT.Pertamina. Pemenang pertama mendapatkan Rp 100 juta, pemenang kedua Rp 75 juta, dan pemenang ketiga Rp 50 juta.

Ketua Tim Pelaksana Teknis Abdul Haris mengatakan, materi soal yang diujikan kepada peserta adalah standar untuk masuk ke jenjang S3. Peserta, kata dia, diminta menyelesaikan soal dengan membuat problem statement, kemudian memprediksi jawaban melalui observasi dan terakhir membuat suatu kesimpulan yang dipaparkan pada babak semifinal dan final. "Jadi di sini sangat dibutuhkan peran perguruan tinggi untuk membina mahasiswa," katanya.

Pada even tahunan yang diselenggarakan untuk kedua kalinya ini diikuti oleh sebanyak 8.000 mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Abdul mengatakan, melalui seleksi tingkat daerah terpilih 99 peserta lalu diseleksi lagi menjadi 27 peserta dan menghasilkan sembilan peserta babak grand final. "Ajang tingkat nasional ini akan diangkat ke level internasional. Kita sudah melakukan penjajagan untuk tingkat regional," katanya.

Haris berharap, melalui OSN-PTI terjadi peningkatan kualitas mahasiswa, dosen, dan universitas. Mendapatkan inovasi baru dari bidang Matematika, Fisika, dan Kimia untuk bisnis ke depan. "Yang terakhir terbangun semangat nasionalisme," katanya.

ICMI Bertugas Lakukan Transformasi Budaya

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyampaikan, Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) bertugas untuk melakukan transformasi budaya. ICMI berperan dalam mengubah dari masyarakat 'tidak tahu' atau ignorance society ke masyarakat 'sadar' atau awareness society.

Hal tersebut disampaikan Mendiknas pada Silaturahmi Kerja Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia Orwil Riau Tahun 2009, di Hotel Pangeran Pekanbaru, Riau, Sabtu (5/12/2009).

Mendiknas mengatakan, keanggotaan ICMI berasal dari masyarakat yang memiliki kesadaran dan intelektualitas yang bagus. Potensi itu, kata Mendiknas, memiliki kesempatan yang bagus untuk melakukan transformasi budaya dalam makna luas. "Contoh yang paling gampang (adalah) anti korupsi. Orang sering menyebut korupsi bagian dari budaya. Bagaimana ICMI bisa mengambil peran atau posisi," katanya.

Tugas tersebut, lanjut Mendiknas, tidak hanya tugas ICMI saja, tetapi juga merupakan tugas kelompok masyarakat yang lain. "Yang kita perlukan adalah critical mass (masa kritis), sehingga kalau sudah mencapai critical mass (maka) bisa menggerakkan masyarakat," katanya.

Pada kesempatan tersebut Mendiknas menandatangani sampul Majalah Warta ICMI. Majalah yang akan terbit empat kali setahun ini adalah sebagai media informasi dan komunikasi para anggota ICMI. Mendiknas juga menandatangi sampul buku Jalan yang Lurus karangan Tengku Dahril.

Ketua ICMI Orwil Riau Tengku Dahril mengatakan, program ICMI adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia bangsa. "Untuk meningkatkan kualitas pikir, iman, dan taqwa tentu harus kita tingkatkan kualitas kerja," katanya.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau Wan Syamsir Yus menyampaikan, forum yang diselenggarakan ICMI ini, di samping untuk mempererat silaturahmi, tetapi dari forum ini diharapkan menghasilkan pemikiran yang berguna bagi pembangunan umat. ICMI, kata dia, adalah sebagai wadah perhimpunan cendekiawan muslim untuk beramal, berkreasi, berkomunikasi, dan berpartisipasi dalam upaya mengangkat harkat kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia dalam rangka pengabdian kepada Allah.

"Sebagai organisasi besar yang mewadahi para cendekiawan yang cemerlang, saya yakin ICMI telah banyak mengukir prestasi melalui peran aktifnya dalam mendukung kebijakan pembangunan baik di tingkat nasional maupun di daerah," kata Wan.

Sementara, Wan menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2009, angka kemiskinan di Provinsi Riau masih mencapai 9,48 persen. Angka ini, kata dia, sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. "Pada 2008 angka kemiskinan 10,63 persen," katanya.

Untuk menekan angka kemiskinan, kata Wan, Pemerintah Daerah Provinsi Riau telah melakukan langkah - langkah atau program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Diantaranya, kata dia, penguatan modal usaha dalam bentuk pemberdayaan desa, pemberdayaan ekonomi perempuan pedesaan, dan dukungan modal melalui lembaga ekonomi mikro.

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008