Sabtu, 03 Juli 2010
SMPN 2 PARE: Kemendiknas, Mengadakan Konferensi Pers Tentang BHP
Mendiknas dalam keterangan persnya menyampaikan, Hasil keputusan Mahkamah Konstitusi terkait putusan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) menyatakan UU itu inkonstitusional. Menyikapi putusan ini, pemerintah tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pemerintah juga akan mempertahankan prinsip nirlaba dalam penyelenggaraan pendidikan.
Mendiknas mengatakan, harus ada peraturan yang lebih teknis dan operatif untuk menterjemahkan nonkomersial atau nirlaba. Mendiknas menilai, jika ada yayasan-yayasan yang membuka pendidikan akan sangat berbahaya kalau menjadikannya sebagai komoditas. "Dia (yayasan) narik SPP besar-besar untuk mendapatkan keuntungan. Nah itulah yang namanya komersialisasi. Itu yang tidak boleh. Harus tetap dipertahankan peran nirlaba tadi itu." katanya.
Ketua Majelis Hakim Konstitusi Moh Mahfud MD, dalam sidang putusan yang digelar di Gedung MK, mengatakan bahwa UU BHP juga dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Pemerintah, kata Mendiknas, menghargai dan menghormati keputusan-keputusan yang diambil oleh lembaga-lembaga- negara negara seperti MA , MK, dan KPK sesuai dengan porto folionya. "Jadi tidak ada istilah pemerintah menolak atau melawan terhadap keputusan lembaga-lembaga negara itu. Kami menghargai dan menghormati, " katanya.
Mendiknas menjelaskan, konsekuensi dari dibatalkannya UU BHP, pemerintah akan meninjau ulang seluruh peraturan yang telah ditetapkan. Hal ini, kata Mendiknas, diterapkan baik pada level peraturan pemerintah (PP) maupun pada peraturan menteri yang konsiderasinya menggunakan UU BHP. "Kita akan mereview seluruh peraturan-peraturan yang telah dikeluarkan. Secara rinci kami akan menyampaikan kepada masyarakat," ujarnya.
Mendiknas menyebutkan, PP yang akan ditinjau ulang yakni tentang Universitas Pertahanan dan Pengelolaan Pendidikan. "PP itu cantolannya adalah UU BHP dan karena UU BHP sudah dibatalkan maka kita review kembali," katanya.
Lebih lanjut Mendiknas menyampaikan, peraturan-peraturan baik yang di pakai oleh perguruan tinggi negeri (PTN) atau PTN yang berubah menjadi (Badan Hukum Milik Negara (BHMN) akan ditinjau ulang disesuaikan dengan peraturan sebelumnya yang masih berlaku. "Kami juga akan mengundang para rektor terutama pimpinan PT BHMN untuk mencari solusi sebagai konsekuensi keputusan MK itu,"ujarnya.
BHP, kata Mendiknas, adalah penyempurnaan dari sebagian yang ada di BHMN. Namun demikian, lanjut Mendiknas, pasal-pasal yang mengatur BHMN juga terkait di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). "Karena BHMN itu juga nyantol di salah satu pasal di UU Sisdiknas maka tentu harus ditata lagi," katanya.
Perbedaan yang mendasar, lanjut Mendiknas, adalah dari sisi keuangan. Mendiknas menyebutkan, pengelolaan keuangan dapat menggunakan pendekatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang diacu oleh PTN Non-BHMN atau Badan Layanan Umum (BLU), yang diacu oleh PTN yang telah berstatus BLU.
Mendiknas menjelaskan, dengan pendekatan PNBP maka PTN yang menerima pendapatan harus menyetorkan ke kas negara. Untuk memakainya, maka harus mengajukan lagi dan mengambilnya di kas negara. "Sementara dengan pendekatan BLU langsung dapat digunakan sendiri," katanya.
3.254.365 Siswa Lulus UN Utama SMP/MTs/SMPT 2010
lulus Ujian Nasional Utama SMP/MTs/SMPT 2010. Sementara, dari total 3.605.163 peserta UN terdapat 350.798 (9,73%) siswa yang mengulang UN.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan pers tentang hasil UN SMP sederajat di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Kamis (6/5/2010).
Angka kelulusan itu, jika dibandingkan tahun 2009 dengan jumlah peserta UN 3.441.815 siswa mengalami penurunan. "Tingkat kelulusannya tahun lalu 95,09 persen, tetapi masih ada kesempatan untuk ujian ulang. Mudah-mudahan bertambah (kelulusannya) ," ujarnya.
Mendiknas menyebutkan, dari 9,73 persen siswa yang mengulang UN ada beberapa provinsi yang paling tinggi persentase mengulangnya, yakni Nusa Tenggara Timur (39,87%), Gorontalo (38,80%), dan Bangka Belitung (34,69%). "Paling kecil Provinsi Bali yakni 1,4 persen," kata Mendiknas.
Adapun persentase siswa yang mengulang menurut jumlah mata pelajaran (MP), yakni ada 21,19 persen atau 74.317 siswa (satu MP), 37,14 persen atau 130.277 siswa (dua MP), 29,41 persen atau 103.185 siswa (3 MP), dan 12,26 persen atau 43.019 siswa (4 MP).
Mendiknas menyebutkan, terdapat 561 (1,31%) sekolah yang kelulusannya nol persen dengan jumlah siswa 9,283 (0,26%). Di sisi lain, lanjut Mendiknas, ada 17.852 sekolah (41,64%) sekolah yang kelulusannya 100 persen dengan jumlah siswa 1.116.761 siswa (31,32%).
Mendiknas menyampaikan daftar 102 sekolah yang masuk dalam 102 besar yang memiliki nilai rata-rata UN tertinggi. Mendiknas menyebutkan, peringkat pertama adalah SMP Negeri 1 Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur dengan jumlah peserta 394 siswa. "Lulus 100 persen dan nilai rata-rata UN 9,38," ujarnya.
Sementara, Mendiknas menyebutkan, peringkat kedua adalah SMP Negeri 1 Denpasar, Kota Denpasar, Bali dengan jumlah peserta 295 siswa. Sekolah ini siswanya lulus 100 persen dengan nilai rata-rata sama, yakni 9,38. Selain itu, kata Mendiknas, disusun daftar 117 siswa yang nilainya tertinggi.
Mendiknas menyebutkan tiga siswa yang memiliki nilai tertinggi. Mereka adalah Fitriyan Dwi Rahayu, siswi SMPN 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Ni Made Yuli Lestari (siswi SMPN 1 Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali), dan Ni Kadek Indra Puspayant (siswi SMPN 1 Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali).
"Nilainya 9,95 hampir 10 semua. Dan ini bukan di Semarang, DKI Jakarta, atau Jawa Timur, ada di kota kecil. Nanti sore barangkali Bapak Presiden SBY akan telepon ke kepala sekolah dari masing-masing sekolah ini. Kami pun juga akan memberikan penghargaan bagi sekolah-sekolah terbaik ini," katanya.
Mendiknas mengatakan, para siswa yang memiliki nilai tertinggi ada di daerah menunjukkan bahwa prestasi tidak serta merta didominasi oleh kota-kota besar. "Artinya lokus tidak memberikan jaminan seseorang berprestasi. Buktinya yang juara bukan di ibukota provinsi, tetapidi daerah terpencil," ujarnya.
Hasil UN akan diumumkan oleh masing-masing sekolah besok (Jumat). Namun, kata Mendiknas, yang terpenting masih ada ujian ulang pada 17-20 Mei 2010. "Masih ada 10 hari untuk persiapkan. Mudah-mudahan dalam jangka 10 hari mereka bisa persiapkan dengan baik. Kepala sekolah, guru, dan orang tua kita semua tetap memberikan dukungan, dorongan, dan motivasi, sehingga Insya Allah bisa sukses," katanya.
Kamis, 17 Juni 2010
Sebagai Sekolah Berstandard Internasional yang berlokasi di Kota Pare
English Camp, Pare , Kediri
Pare is a small district at Kediri residence, East Java, Indonesia. Pare is well-known as English camp. Many students especially from college come to Pare to improve their English skills. You can find many englishcourse everywhere! *in Tulungrejo village and Pelem Village*. and And so do i :D
In Pare, i took program for Ramadhan’s month in BEC (Basic English Course). So, the term is only takes a month. In Pare, you don’t have to worry of living expenses. You can find many lodgings near your course that so friendly with your financial. And also, the foods are sooooooooooooo cheap! :D
Everyday we have four sessions. First session is speaking time. Next, we have vocabulary session. third, we have English Time. So we mix all lesson from speaking, vocabs and grammar here. And last, we have grammar session :). For speaking, we have Miss Zunita. Mr. Bayguni for vocabulary, Mr. Adin for english time, and Mr. Nanang for grammar. Studying with them were so fun and attractive. Even the lessons were not satisfying me much, those were enough to spend my time in Ramadhan month and to remember grammar back.
From this class, i have many experiences that were so fun and i also have many friends from many place and culture. Firstly, in Pare i got shock culture. Because, in Pare, near my lived, the neighborhood around me are so religious with Islam. I’m a muslim but my neighborhood in Medan not so religious as in Pare. But not also in Pare, mostly area in Java, especially East Java and Central Java are religious area. So watch your attitude and appearance. Keep your polite.
But, English camp doesn’t mean Pare looks like such as settlements in foreign countries or areas packed with tourist attractions like the foreigner in Yogyakarta or Jakarta. The people still speak Indonesian or Javanese there ( out of the course place of course). But you can find here many English course like homestay.
My course, BEC Basic English Course
With my friends and teachers..
Fun studying with games!
Smpn 2 Pare West Pare
eecc 70 MAM 10
Bu Liliek Sosiowati S.Pd and the board of EECC Weekly Meeting are in action after election program. The Meeting program is one of activities at EECC to encourage and motivate the students being able to speak publicly. This program is very useful for the students and held every Friday
UPTD SMP NEGERI 2 PARE
Semalam, saya ngobrol dengan bu Yayah mengenai sebuah kampung di Pare, Kediri. Walau di pelosok, kampung itu tak seperti kampung pada umumnya. Kampung itu dikenal dengan julukan Kampung Inggris, sebab penduduk di kampung itu menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.
Proses itu kemudian menggerakkan ekonomi kampung itu. Ada orang-orang luar yang datang ingin belajar bahasa Inggris, kemudian menyewa rumah penduduk. Karena mulai ada aktivitas orang luar, mulai muncul kebutuhan makanan dan lainnya. Singkat cerita, ekonomi kampung itu berdenyut karena fokus dan keterlibatan para penduduk kampung itu.
Bukan hanya tentang ekonomi itu yang diceritakan bu Yayah. Tetapi, proses belajar di sana yang berlangsung selama 1 tahun (mereka menyebutnya English Camp) itu ternyata efektif. Anak cukup mahir berbahasa Inggris, bukan hanya grammar, tetapi juga conversation. Yang menarik -kata bu Yayah- logat Jawanya tidak terdengar lagi. (he..he.. sebagai orang Jawa dengan lidah Jawa tulen, saya sangat mengerti tentang hal ini). Proses belajar juga tak konvensional, tapi di bawah pohon bambu, dan sebagainya.
Bersama anak-anaknya, Bu Yayah sudah pergi ke Pare Kediri. Bahkan, bu Yayah berencana mengirimkan anak pertamanya tahun depan ke sana.
"Satu lagi yang juga menarik, biayanya sangat murah (Rp. 60 ribu/bulan). Biaya hidupnya juga sangat murah dibandingkan kota besar," kata bu Yayah.
Smp Negeri 2 Pare-website Rsbi
Kursus Bahasa Asing
Dengan Biaya Ringan di Pare-Kediri
WTCThe Training Center
WTC, merupakan lembaga pelatihan bahasa asing yang berdiri sejak 23 Oktober 1991 yang berada di kampung bahasa Inggris Pare, diawali dengan program kursus bahasa Jepang, bahasa Inggris kemudian bahasa Mandarin. Dan hingga kini telah meluluskan lebih dari 1500 siswa yang telah banyak bekerja di dalam maupun luar negeri.
Tujuan kami memberikan pelatihan adalah membekali siswa ketrampilan berbahasa asing dan memberikan motivasi serta wawasan agar siap bersaing dalam dunia kerja maupun bisnis.
Disamping itu, WTC juga memberikan informasi kerja baik di dalam maupun luar negeri.
Kenapa memilih WTC, karena program kami singkat, efektif (masuk setiap hari Senin sampai dengan Jum'at), memberikan materi praktis yang segera digunakan dalam dunia kerja dan lingkungan belajar yang kondusif.
| | | | |
| | | | |
| | | | |
Klik : SEND E-MAIL TO ME KERJA KELUAR NEGERI INFO BEASISWA
Siswa siswi WTC dan salah satu pengajar
Klik >Kesan dan Pesan Alumni Siswa Bhs.Jepang:Tri Asmara, Yopy, Sukri, Nur-san