Kamis, 19 November 2009

Layanan Pendidikan Anak Usia Dini Terintegrasi

Layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) usia 0 - 6 tahun ke depan diharapkan semakin baik dan terintegrasi. Layanan untuk menumbuhkembangkan anak - anak ini akan mengintegrasikan antara layanan pendidikan, kesehatan, gizi, dan perlindungan. UNESCO menargetkan pada 2015 angka partisipasi PAUD mencapai 75 persen.

"PAUD adalah salah satu program education for all dan itu ada di urutan pertama dan komitmen internasional terhadap PAUD sangat jelas. Oleh karena itu, kita berupaya selain untuk meningkatkan akses pendidikan, tetapi kita juga harus fokus kepada mutu," katanya Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Hamid Muhammad saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media, Depdiknas, Senin (16/11/2009).

Hamid mengatakan, jenis layanan PAUD adalah formal dan nonformal meliputi kelompok bermain, penitipan anak, satuan paud sejenis, dan yang diselenggarakan oleh kelompok agama seperti taman pendidikan Alquran. Dia menjelaskan, satuan PAUD sejenis bermacam - macam seperti POS PAUD yang merupakan integrasi layanan pendidikan kesehatan dan gizi. "Jadi PAUD yang diintegrasikan dengan Posyandu," katanya.

Hamid menyampaikan, pemerintah saat ini sedang merintis PAUD holistik terpadu yang sedang diujicobakan di daerah Bogor, Jawa Barat dan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. "Termasuk yang sedang kita rintis PAUD berbasis keluarga. Model ini akan kita rintis dan betul - betul kita tangani dengan baik. Nanti mudah - mudahan dalam satu tahun sudah ada diseminasi kabupaten dan kota yang punya komitmen untuk mengembangkan PAUD," katanya.

Hamid menyebutkan, jumlah penduduk usia PAUD di Indonesia 30 juta orang. Angka partisipasi kasar (APK) PAUD pada 2008 50,6 persen dan diproyeksikan pada akhir 2009 mencapai 53 persen. "Pada 2014 atau akhir Kabinet Indonesia Bersatu II bisa mencapai 72 persen," katanya.

Hamid mengatakan, Direktorat Jenderal PNFI akan menggelar Indonesia International Early Childhood Education Conference and Exhibition 2009 pada 19 - 20 November 2009 di Surabaya, Jawa Timur. Dia menyebutkan, kegiatan akan menghadirkan 17 pembicara ahli dari Amerika Serikat, Australia, dan Singapura. Hamid mengatakan, kegiatan ini akan membahas isu - isu aktual yang sedang berkembang di seluruh dunia dan berbagai metode layanan yang dikembangkan di berbagai belahan bumi.

"Praktek - praktek terbaik layanan PAUD yang ada di berbagai negara kita coba sharing, sehingga nantinya layanan pendidikan PAUD ini ke depan di Indonesia bukan hanya aksesnya yang bertambah, tapi juga harus diikuti dengan layanan PAUD yang lebih bagus dan terintegrasi," kata Hamid. Hal ini ditujukan agar anak - anak generasi bangsa Indonesia ke depan semakin baik dan berkembang, sehingga menjadi aset potensial bagi kemajuan bangsa ini.

Direktur PAUD Sudjarwo Singowidjojo menyebutkan, kebutuhan pendanaan PAUD agar mutunya bagus dan memenuhi standar pertahunnya antara Rp3 triliun sampai dengan Rp4 triliun. Dia menyebutkan, anggaran saat ini Rp500 miliar. "Pemerintah daerah dihimbau untuk memberikan kontribusi yang memadahi,

Beasiswa S2 dari SF, Tinggal Pilih Universitasnya!

Sampoerna Foundation (SF) berikan satu beasiswa program Master’s of Business Administration (MBA) di universitas terkemuka di luar negeri. Batas pengiriman aplikasinya 1 Februari 2010.

Program beasiswa MBA tersebut terdiri dari beberapa pilihan negara yaitu di Amerika Serikat, Australian Education International di Australia, di Prancis, di Inggris, serta di Singapura.

Syarat utamanya, pelamar beasiswa harus memenuhi seluruh persyaratan di bawah ini, yang antara lain adalah warga negara Indonesia, berusia maksimal 35 tahun saat mendaftar program beasiswa ini, lulus S1 dari universitas lokal dan dari jurusan apapun dengan IPK minimal 3.00 (dalam skala 4.00), memiliki pengalaman kerja penuh-waktu selama minimal 2 tahun setelah menyelesaikan pendidikan S1, serta tidak sedang mengikuti pendidikan S2, ataupun sudah memiliki gelar S2 atau sederajat.

Selain itu, pendaftar beasiswa ini bukan lulusan dari universitas di luar negeri, kecuali jika karena menerima beasiswa penuh dan tidak sedang menerima beasiswa yang sejenis. Pada batas akhir pendaftaran, 1 Februari 2010, pelamar telah mendaftarkan diri ke universitas-universitas yang direkomendasikan oleh SF untuk tahun ajaran 2010/2011.

Satu syarat lain yang penting perlu dicermati adalah penerima beasiswa memiliki motivasi untuk kembali ke Indonesia dan bekerja di Indonesia setelah menyelesaikan program MBA-nya. Aplikan yang terbukti memalsukan informasi di formulir aplikasi atau pada dokumen apapun yang dilampirkan dalam formulir aplikasi akan langsung didiskualifikasi.
Beasiswa meliputi penggantian satu kali biaya tes GMAT serta TOEFL/ IELTS yang sesuai tagihan/bukti pembayaran asli, penggantian biaya pendaftaran ke universitas untuk maksimal dua universitas, biaya proses pembuatan visa pelajar, tiket pesawat pergi-pulang dari Jakarta ke negara tujuan studi, biaya studi, tunjangan hidup selama masa studi, serta tunjangan buku.

Informasi lengkap mengenai beasiswa:
www.sampoernafoundation.org/content/view/1481/257/lang,id/.

Formulir Aplikasi
Formulir Referensi

Kedua formulir yang telah dilengkapi dengan dokumen - dokumen pendukung yang disyaratkan tersebut bisa dikirimkan ke kantor SF:
Sampoerna School of Education Building
Jl. Kapten Tendean No.88 C, 5th Floor
Jakarta Selatan 12710,
Indonesia.

Pengiriman paket aplikasi harus mencantumkan nama program beasiswa ini di sebelah kanan atas amplop.

Guru Bertugas Bangkitkan Anak Didik Bercita-Cita

Tugas utama seorang guru dengan kemuliaannya adalah mampu memotivasi dan membangkitkan agar anak didik punya cita - cita. Guru diharapkan mampu mendorong anak didik bersikap optimis. Guru dianggap berprestasi jika siswa - siswa mampu melebihinya.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh dihadapan para finalis Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama Tingkat Nasional, Selasa (10/11/2009) di Depdiknas, Jakarta.

"Anak didik kita itu masa depan kita semua. Oleh karena itu, dia harus kita berikan motivasi dan dorongan - dorongan agar dia punya cita - cita, punya mimpi - mimpi besar. Media (pembelajaran) yang akan kita lombakan sebagai kreasi dan inovasi dari bapak ibu sekalian itu adalah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ikhtiar untuk meningkatkan kualitas pendiidkan kita," kata Mendiknas.

Tema lomba adalah Media Pembelajaran untuk Menciptakan Proses Pembelajaran yang Efektif, Efisien, dan Mengembangkan Kemandirian dalam Belajar Para Siswa. Lomba bertujuan untuk memotivasi guru SMP seluruh Indonesia untuk berkreasi, berinovasi, dan menggunakan media untuk pembelajaran yang efektif, efisien, interaktif, menyenangkan, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa kreativitas dan kemandirian peserta didik di dalam belajar.

Panitia penyelenggara lomba telah menetapkan 198 karya yang lolos ke tahap peniliaian babak II dari 307 karya yang diterima panitia dari seluruh Indonesia. Mendiknas menyatakan, bagi para pemenang akan mendapatkan penghargaan yaitu dibantu untuk mengurus hak cipta hasil karyanya. "Para pemenang kita berikan penghargaan. Salah satu diantaranya kita bantu mendapatkan hak cipta, sehingga hasil karya ibu dan bapak ada pengakuan," katanya.

Menurut Mendiknas media pembelajaran dapat diibaratkan sebagai jembatan. Mendiknas menjelaskan, jika guru sudah menyiapkan informasi - informasi yang luar biasa, tetapi karena medianya tidak bagus maka informasi akan hilang dan tidak sampai ke siswa atau kalau sampai sudah berkurang. "Sehingga media (pembelajaran) ini sangat penting," katanya.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto melaporkan, karya yang dilombakan merupakan hasil penelitian termasuk penelitian tindakan kelas yang berfokus pada pengembangan atau penciptaan inovasi dan pemanfaatan media pembalajaran baik media sederhana atau multimedia. Dia menyebutkan, media pembelajaran ini digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS dan PKN. "Media pembelajaran yang dimaksud telah digunakan dalam proses pembelajaran dasar empiris, memfasilitasi pembelajaran yang efektif, efisien, interaktif, dan menyenangkan, " katanya.

Pada kesempatan yang sama Mendiknas menyampaikan, pada Program Kerja 100 Hari Depdiknas yang ditentukan sampai dengan 1 Februari 2010, pemerintah akan bekerja keras merampungkan banyak hal termasuk peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah. "Nanti Insya Allah ada pelatihan upgrading kepala sekolah selama 2010. Paling tidak ada 30.000 kepala sekolah/pengawas yang harus diupgrade agar kualitas pendidikan kita juga akan meningkat," katanya.

Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, terkait distribusi guru yang ada di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal, pemerintah akan mengambil kebijakan khusus. Mendikas, menyebutkan, sebanyak 12 kepala dinas pendidikan provinsi dan 33 kepala dinas pendidikan kabupaten/kota telah diundang untuk memberikan masukan kebutuhan riil pendidikan di daerah terpencil. "Kita ingin memberikan insentif bagi guru-guru yang bersedia untuk bertugas di daerah - daerah terpencil," katanya kepada pers usai pembukaan acara lomba.

Mendiknas mengatakan, pemerintah dalam mengambil kebijakan tidak menggunakan pendekatan secara obligasi yaitu pendekatan yang didasarkan atas kewajiban, tetapi dengan pendekatan insentif. Mendiknas menyebutkan, ada dua pendekata insentif yaitu insentif finansial dengan kenaikan gaji dan insentif karir dengan kenaikan pangkat. "Yang tadinya mungkin dalam dua tahun naik pangkatnya. Ini mungkin tiap tiga tahun naik dua kali atau satu tahun naik satu kali dan seterusnya. Ini yang sedang dirumuskan," katanya.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Baedhowi menyebutkan, saat ini terdapat 41.000 guru yang tersebar di 33 kabupaten di daerah perbatasan terluar, terpencil, dan terdepan. "Itu adalah data berdasarkan NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) yang sedang kita kerjakan sampai kondisi September 2009," katanya.***

Jumat, 30 Oktober 2009

Mendiknas Fokus Perbaikan Infrastruktur Sekolah

JAKARTA: Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada Kabinet Indonesia Bersatu II,...

Mohammad Nuh menegaskan dirinya akan menargetkan perbaikan infrastruktur sekolah pada 100 hari pertama.

"Pada 100 hari pertama saya menjabat saya akan memulai perbaikan sekolah rusak atau bocor," kata Mendiknas Mohammad Nuh.

Ia menjelaskan, selain perbaikan sekolah rusak di masa 100 hari pertama menjabat dirinya akan melakukan sejumlah hal.

Yang pertama adalah melanjutkan program pendidikan tahun 2009 yang belum tuntas dan sudah ditetapkan pada pemerintahan menteri sebelumnya. "Pada 100 hari pertama saya menjabat yakni sekitar November 2009 hingga Januari 2010, saya akan melanjutkan program tahun 2009 yang telah ditetapkan oleh menteri sebelumnya," katanya.

Selain itu dirinya akan melakukan pengembangan program sesuai dengan kontrak kinerja yang telah ditandatanganinya di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ditambah lagi, ia juga akan membuat program-program baru di bidang pendidikan yang diperlukan pada 100 hari pertama dirinya menjabat.

"Selain meneruskan program yang sudah ditetapkan, saya juga akan mengembangkannya dan membuat program-program baru di bidang pendidikan," katanya.

Akan tetapi, mantan menteri komunikasi dan informatika (Menkominfo) pada Kabinet Indonesia Bersatu I itu menegaskan bahwa target utama yang ingin dicapainya adalah perbaikan infrastruktur gedung-gedung sekolah sehingga tidak ada lagi siswa yang belajar di sekolah rusak atau bocor saat hujan.

"Kalau infrastruktur sekolahnya baik, maka proses belajar mengajar juga akan berjalan dengan baik," katanya.

Ia menargetkan penyelesaian perbaikan infrastruktur bangunan sekolah di seluruh Indonesia akan rampung pada tahun 2010. "Saya berharap perbaikan infrastruktur gedung-gedung sekolah di Indonesia dapat rampung pada tahun 2010," katanya.

Ia mengakui akan banyak sekali tantangan yang dihadapinya dalam menjabat menteri pendidikan nasional. Namun demikian, atas dukungan semua pihak dan masyarakat ia optimis bisa menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya dengan baik untuk membawa pendidikan Indonesia lebih maju lagi.(Ant/OL-02) -Media Indonesia-

Serah Terima Jabatan Mendiknas

Jakarta, - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Kabinet Indonesia Bersatu Prof.Dr. Bambang Sudibyo MBA, menyerahkan jabatan...

Mendiknas kepada Prof.Dr.Ir.H.Mohammad Nuh DEA, Kamis (22/10/2009).

Serah terima jabatan diselenggarakan setelah sebelumnya, pada Kamis (22/10/2009) siang di Istana Negara, Presiden RI Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono melantik para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Mohammad Nuh dilantik dan menjabat sebagai Mendiknas di kabinet ini mulai periode 2009-2014.

Dalam sambutannya, Mohammad Nuh, yang sebelumnya menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika pada Kabinet Indonesia Bersatu periode 2007-2009, mengatakan, persoalan pendidikan adalah persoalan yang sangat kompleks. Oleh karena itu, kata dia, diperlukan partisipasi dari masyarakat. Pendidikan, lanjut dia, juga tidak bisa dilepaskan dari karakter dan budaya. "Jadikan sekolah sebagai bagian dari membangun karakter dan budaya," katanya.

Mendiknas Kabinet Indonesia Bersatu Bambang Sudibyo pada kesempatan yang sama menyampaikan, sejak dilakukan amandemen Undang-Undang Dasar (UUD)1945 disusul UU tentang Sistem Pendidikan Nasional, aspirasi dan tuntutan masyarakat akan pendidikan melonjak tinggi.

Bambang yang menjabat sebagai Mendiknas mulai 21 Oktober 2004 sampai dengan 22 Oktober 2009 ini mengatakan, selama lima tahun mulai 2005-2009, bersama seluruh jajaran Depdiknas telah membakukan kebijakan pendidikan melalui Rencana Strategis Pendidikan Nasional 2005-2009. "Pada akhir 2009 hampir semua indikator kinerja kunci dalam renstra telah dapat dicapai bahkan banyak yang melampaui target. Pada 2009, ketentuan UUD 1945 untuk mengalokasikan (anggaran) sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN untuk pendidikan dipenuhi Pemerintah bersama-sama DPR," katanya.

setelah selesai acara serah terima jabatan, Mendiknas Mohammad Nuh mengadakan konferensi pers di ruang sidang mendiknas gedung A Departemen Pendidikan Nasional, untuk menyampaikan empat pilar, yakni, sekolah yang layak, terjangkau, berkualitas, dan adanya jaminan kepada lulusannya. (ALI/AND) -sidiknas-

Pelatihan Pembelajaran TIK bagi Guru

Jakarta, Rabu (21 Oktober 2009)--Pusat Pendidikan Terbuka Jarak Jauh Asia Tenggara atau SEAMOLEC mengadakan pelatihan pembelajaran...

berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi guru-guru SMP, SMA, dan SMK. Pelatihan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) khususnya guru agar mereka dapat melakukan pembelajaran secara online.

Manajer Konten Teknologi Informasi SEAMOLEC Dewi Sopiah mengatakan, sebagai tahap awal, kegiatan yang dilaksanakan sejak bulan Juli 2009 di 16 provinsi di Indonesia telah melatih sebanyak 24.711 orang guru dari target peserta 500.000 orang. "Guru atau murid di pelosok yang tidak terjangkau internet pun dapat melakukan diklat ini. Diharapkan mereka dapat mempelajari materi pembelajaran sesuai keinginan mereka. Artinya belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja," katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media Depdiknas, Jakarta, Rabu (21/10/2009) .

Dewi menjelaskan, materi pelatihan selama lima hari ini meliputi internet untuk pembelajaran, facebook untuk pembelajaran, peta module, program mapping, dan pembelajaran TIK menggunakan perangkat lunak Moodle. "Para peserta akan diajari membuat dan menulis dengan email. Mereka juga diajari cara melakukan pencarian materi pembelajaran melalui internet," katanya.

Dewi mengatakan, situs jejaring sosial Facebook dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi anak. Selain itu, kata dia, dengan menggunakan perangkat lunak Moodle, seorang guru dapat melakukan pembelajaran tanpa tatap muka. Moodle, kata dia, dapat diunduh secara gratis dari internet. Perangkat lunak ini juga tersedia dalam bahasa Arab. "Para guru dapat mengajarkan Moodle sebagai suplemen di sekolah. Konten pembelajaran diserahkan ke guru-guru sendiri karena mereka yang tahu," katanya.

Menurut Dewi, antusiasme peserta mengikuti kegiatan ini cukup bagus. Dia menyebutkan, dari 26 kabupaten yang telah mengikuti pelatihan, jumlah pesertanya melampaui target 60 guru di setiap kabupaten."Pesertan ya mencapai 70 orang lebih. Bahkan ada guru sekolah dasar (SD) yang menjadi peserta," katanya.

Dewi menyebutkan, hanya lima persen calon peserta yang belum bisa IT. Para peserta, kata dia, diwajibkan membawa laptop untuk dapat membawa pulang materi pembelajaran dan mengembangkannya sendiri. "Para peserta rata-rata sudah membawa laptop walaupun meminjam," katanya.

Provinsi yang melakukan pelatihan ini, yakni Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Riau, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Bali, Sumatera Utara, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. "Tahun depan akan kita tingkatkan di provinsi-provinsi yang belum mengikuti pelatihan," kata Dewi.*** -GIM-

Satelit Mini Buatan Mahasiswa Indonesia Mengorbit Tahun 2012

Satelit mini atau nano-satelit buatan mahasiswa Indonesia akan diluncurkan pada tahun 2012...

karena pembahasan antarmahasiswa UGM, ITB, ITS, UI, dan PENS ITS serta mahasiswa Indonesia di luar negeri sudah dimulai.

"Mulai tahun ini (2009), kami melakukan serangkaian pertemuan dengan mahasiswa dari berbagai kampus," kata peneliti asal Indonesia di TU Delft Belanda, Dedy HB Wicaksono PhD di Surabaya, Jawa Timur, Senin (19/10).

Di sela-sela Lokakarya INSPIRE (Indonesian Nano Satellite Platform Initiative for Research & Education) di PENS ITS, ia mengatakan pertemuan akan berlanjut dengan penelitian secara intensif di Belanda atau di Indonesia. "INSPIRE merupakan forum pertemuan antarmahasiswa dengan berbagai stakeholder dari pemerintah dan lembaga riset untuk mendorong penguasaan teknologi satelit sejak kalangan mahasiswa," katanya.

Alumnus Teknik Fisika ITB Bandung (S1) itu menyatakan Indonesia sangat membutuhkan satelit untuk peta hutan, perikanan, bencana alam, kepulauan, kriminalitas laut, dan sebagainya. "Kita sudah memiliki Satelit Palapa dan usianya sudah 30 tahunan. Teknologinya dibuat di luar negeri, sehingga devisa negara akan tersedot keluar dan kita akhirnya tidak memiliki kemandirian," kata alumnus Tokyo University of Technology (S2) itu.

Menurut alumnus TU Delft Belanda (S3) itu, satelit yang besar itu membutuhkan dana yang mahal hingga ratusan miliar atau bahkan triliunan, namun nano-satelit hanya berkisar Rp5 miliar dan satelit mini akan bertahan selama kurun tiga tahunan.

"Tidak hanya murah, tapi nano-satelit itu sebenarnya dapat kita kuasai dengan mudah, apalagi di dalamnya sudah ada unsur pendidikan, aspek aplikasi teknologi, dan penelitian lintas keilmuan seperti telekomunikasi, elektronika, energi surya, dan sebagainya," katanya.

Oleh karena itu, kata penggagas INSPIRE itu, para dosen dapat mendorong mahasiswa telekomunikasi yang selama ini merumuskan tugas akhir (TA) tentang alat-alat telekomunikasi seperti handphone (HP), namun kini dapat mengarahkan TA pada bidang satelit.

"Jadi, pembahasan dapat dilakukan pada tahun 2009, lalu tahun 2010 dengan penelitian intensif, bahkan TU Delft sangat senang bila penelitian dapat dilakukan di Belanda, kemudian tahun 2011 dilakukan persiapan dan tahun 2012 ada peluncuran," katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris Menkominfo, Dr Eng Son Kuswadi menyatakan, dana pembuatan nano-satelit hanya Rp5 miliar dan bila dimulai dengan pertemuan, penelitian, hingga akhirnya peluncuran nano-satelit, maka akan dibutuhkan dana sekitar Rp10 miliar.

"Pembahasan lewat workshop yang melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai universitas itu akan kita lakukan dua kali selama tahun 2009, termasuk pembahasan dengan LAPAN, BPPT, IPTN, Departemen Kelautan dan Perikanan," katanya.

Setelah itu, kata dosen robotik PENS ITS Surabaya itu, pembahasan intensif untuk aplikasi akan dilakukan di TU Delft Belanda dan di Indonesia hingga tahun 2011. "Tahun 2012 akan kita lakukan peluncuran, apakah peluncuran akan memanfaatkan lembaga sejenis LAPAN di Indonesia yang sudah memiliki lokasi peluncuran roket atau mungkin LAPAN juga sudah siap pada tahun itu," katanya.

Ia menambahkan pemanfaatan nano-satelit itu akan diaplikasikan untuk fungsi telekomunikasi di saat bencana alam dan pencegahan pencurian ikan. "Nantinya, bisa juga untuk sensor cuaca," katanya. (Ant/OL-03) -Media Indonesia-

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008