Rabu, 17 Maret 2010

Indonesian Confrence on Children with Special Needs-Multi Perspectives on Inclusion

Jakarta, - Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen DIKTI), Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia berkolaborasi...

dengan IndoCARE (Indonesia Centre for Autism Resource and Expertise)
mengadakan konferensi pers di gedung DIKTI Kemendiknas, Jakarta, dengan narasumber Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal,
Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Muchlas
Samani dan Chairman of Indocare, Juny Gunawan, Senin (1/3) Sore.

Dalam keterangan pers wamendiknas menyampaikan, "Kementerian
Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan memperbanyak keberadaan
sekolah inklusi. Saat ini terdapat 811 sekolah inklusi dengan 15.144
siswa. Mereka yang belajar di sekolah inklusi adalah gabungan siswa
normal pada umumnya dan siswa berkebutuhan khusus," katanya.

"Indonesia melakukan pendidikan yang mengarah kepada inclusive
education
dengan memasukkan sebanyak mungkin potensi anak dengan kebutuhan khusus ke dalam sistem sekolah formal," kata Fasli.

Fasli menyampaikan, meskipun anak-anak ini memerlukan kebutuhan
khusus, tetapi kalau dimasukkan bersama-sama anak-anak normal lainnya justru lebih cepat kesembuhannya. Anak itu, kata dia, merasa tidak terasing dan bisa mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya di sekolah inklusif. "Anak-anak normal, keluarga, dan guru, juga makin tahu bagaimana melayani anak berkebutuhan khusus ini. Akan kita
kembangkan di seluruh provinsi dan masuk ke kabupaten dan kota," ujarnya.

Kemendiknas, kata Fasli, akan berupaya memberikan penyadaran kepada guru dan kepala sekolah agar tidak melihat keberadaan siswa
berkebutuhan khusus di sekolahnya sebagai beban. Menurut dia, hal ini
adalah tugas mulia yang harus diemban. "Justru mereka yang seharusnya terpanggil bagaimana memberikan akses pendidikan yang bermutu kepada anak-anak yang berkebutuhan khusus ini. Mudah-mudahan orang tua dan pengambil kebijakan seperti DPR dan DPRD juga menuntut supaya pelayanan publik untuk anak-anak ini jangan sampai menjadi kelas dua dan sama dengan anak-anak yang lain," katanya.

Fasli menyampaikan, Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi
tentang anak dengan kebutuhan khusus atau Indonesian Conference on
Children with Special Needs. Acara yang akan diselenggarakan pada
11-12 Maret 2010 ini terbuka bagi guru, orang tua, dan tokoh-tokoh
masyarakat di seluruh Indonesia. "Seminar akan membahas dari multi
perspektif baik dari sisi keilmuan dari sudut psikologi, pedagogi,
kesehatan, dan gizi maupun juga dari orangnya, ada orang tua, tokoh
masyarakat, guru, birokrasi, dan legislatif," katanya.

Untuk mengembangkan sekolah inklusi ini, kata Fasli, pemerintah akan
memperbaiki sistem pelatihan guru, mengembangkan Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK TK dan PLB) di Bandung, Jawa Barat, dan memberikan insentif bagi sekolah-sekolah yang mau mencanangkan dirinya menjadi sekolah inklusif. "Sekolah bisa melakukan pelatihan lokal. Pelatihnya bisa outsource, tapi dananya kita berikan ke sekolah," katanya.

Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Muchlas
Samani, menyampaikan, guru-guru yang sekolahnya berminat menjadi
sekolah inklusi akan diberikan pelatihan khusus. Selain itu, akan ada
pembimbing khusus yang akan mengajar dari satu kelas ke kelas
lainnya. "Harapannya makin banyak sekolah yang mau menerima anak-anak yang punya kebutuhan khusus," katanya.


Pengurus Indocare, Juny Gunawan, mengatakan, pelatihan praktis diberikan kepada guru dan terapis. Selain itu, ada modul pelatihan bagi
pendamping yang mengasuh. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang khusus menangani anak-anak autis usia 2-8 tahun ini juga akan
melibatkan lulusan SMK Sosial untuk dibina dengan modul-modul
vokasional menjadi guru di rumah. "Nanti lama-lama akan jadi guru di
sekolah atau menjadi shadow teacher," katanya.

Design by infinityskins.blogspot.com 2007-2008